Selasa, 21 April 2015

Selamat Hari Kartini & Pesan Pramuria dari Lucknow



Tajuk Rencana harian Kompas pagi ini berjudul "Relevansi Peringatan Hari Kartini". Alinea pembukanya begini, "Hari ini kita kembali memperingati hari kelahiran Kartini seraya mencari relevansi perjuangannya untuk perbaikan kondisi perempuan Indonesia." Dikatakan bahwa banyak perubahan terjadi sejak Kartini memperjuangkan nasib perempuan Indonesia. Zaman sekarang banyak perempuan Indonesia yang hebat dan mengagumkan dalam berbagai bidang. Saya salin ini:

"Meski demikian, perempuan masih mengalami banyak persoalan yang menghambat potensinya berpartisipasi dalam pembangunan.

Salah satunya, masih tingginya angka kematian ibu (AKI). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 mencatat AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup, kembali seperti situasi tahun 1990. Angka itu jauh dari target Sasaran Pembangunan Milenium, yaitu 102 pada tahun ini dan jauh dari capaian tahun 2007, yaitu 228.

Masih tingginya AKI menjadi ironi karena Kartini meninggal saat melahirkan anak pertamanya pada usia 25 tahun, lebih dari 100 tahun lalu.

Salah satu penyebab tingginya AKI adalah masih terjadinya praktik pernikahan dini pada anak perempuan, belum memadainya layanan kesehatan reproduksi bagi remaja putri dan perempuan, termasuk belum terpenuhinya kebutuhan layanan keluarga berencana."


Artikel opini di halaman tujuh berjudul "Impian Kartini dalam Nawacita" oleh Omas Bulan Samosir. Saya catat,

"Perempuan Indonesia akan bertambah sebanyak 6,3 juta jiwa dari 127,1 juta jiwa pada 2015 menjadi 133,4 juta jiwa pada 2019. Selain itu, pada periode 2015-2019, Indonesia juga akan diwarnai lebih banyaknya perempuan usia 15 tahun ke atas daripada laki-laki usia 15 tahun ke atas. Pencapaian sasaran pembangunan perempuan dan visi pembangunan nasional 2015-2019, terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong, akan sangat bergantung pada pemanfaatan dinamika kependudukan ini.

Perempuan Indonesia (masih) mengalami berbagai bentuk ketidakadilan dan diskriminasi. Ketidakadilan dan diskriminasi terjadi antara lain dalam akses terhadap pembangunan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan kerja."


Saya menyimpan catatan yang saya salin dari buku "Pramuria dari Lucknow", sebuah novel berdasarkan kisah nyata karya Mirza Mohammad Hadi Ruswa. Saya salinkan lagi di sini satu alinea di penghujung buku, seperti sebuah pesan untuk pendidikan anak perempuan.

"Sebelum kisah saya berakhir, saya ingin menyampaikan beberapa patah kata kepada wanita-wanita sejawat saya. Saya harap kata-kata ini akan terukir di hati mereka. Wahai kaum wanita yang bodoh, janganlah berangan-angan bahwa akan ada orang yang mencintaimu secara sungguh-sungguh. Pacarmu yang pada hari ini bersumpah akan mengorbankan jiwanya untukmu selang sebentar saja akan meninggalkan dirimu. Mereka selamanya takkan teguh, karena engkau tak pantas diteguhi. Yang pantas dihadiahi cinta adalah wanita-wanita yang hanya melihat wajah seorang laki-laki saja. Tuhan takkan menghadiahkan cinta sejati kepada seorang pelacur."

  https://www.facebook.com/notes/opayus-unchained-pearsaga/beberapa-lembar-penutup-buku-pramuria-dari-lucknow-karya-mirza-mohammad-hadi-rus/10150311970294669



Senin, 20 April 2015

Saya Suka Orat-Oret Koran Bekas



Koran bekas mempunyai arti yang penting untuk saya. Hampir setiap hari saya orat-oret koran bekas. Saya memakai kuas dan cat akrilik. Orat-oret ini menjadi permainan yang menarik. Anak kecil dalam diri saya selalu gembira jika bisa bermain cat warna-warni.

Nantinya koran-koran bekas yang sudah penuh coreng moreng akan saya sobek-sobek. Anak kecil dalam diri saya selalu gembira menyobek. Dulu saya suka menyobek dan membakar karya saya yang entah mengapa tiba-tiba rasanya jelek. Padahal waktu baru selesai saya melihatnya bagus dan saya pun menyimpannya. Sejak serius melukis abstrak saya tidak pernah lagi menyobek atau membakar karya yang sudah jadi. Semua lukisan abstrak bagus, siapapun penciptanya. Masalah suka atau tidak suka adalah urusan lain.



Sekarang saya sedang gemar membuat karya kolase. Saya menggunakan karton manila, menempelkan sobekan-sobekan kertas koran di atasnya. Orang dewasa dalam diri saya bekerja setelah mengusir 'orang besar' yang suka sekali nongkrong di dalam otak saya.

Saya asyik berkarya dengan biaya murah dan mudah menyimpan hasilnya. Karena masalah saya sekarang adalah saya kehabisan tempat untuk menyimpan lukisan kanvas saya. Dan saya tidak punya uang untuk terus melukis di kanvas (yang kemudian jadi terasa mewah). Jika saya memakai cat minyak yang bermutu di atas kanvas maka saya akan mati kelaparan. Almarhum pelukis Sriwidodo selalu berseloroh bahwa setiap satu kali tarikan kuasnya berarti seharga satu tusuk sate kambing. Bayangkan jika satu kanvas harus selesai paling sedikit dengan seribu tarikan kuas. Adalah sangat sedih jika ada teman yang minta lukisan gratis, atau kolektor yang menawar lukisan semurah mungkin. Saya pernah marah kepada kerabat istri yang mau membeli lukisan kanvas saya untuk menghias dinding kantor barunya, setelah setuju harga eh esoknya menawar lagi. Saya ngambek untuk batal menjual, titik. Yang susah jadinya istri saya. Betapa menderitanya dia mempunyai suami pelukis abstrak yang tak terkenal.

Orang besar dalam diri saya selalu bicara tentang pameran di Paris, punya apartemen sebagai studio, punya museum galeri khusus karya saya dengan gedung bertingkat-tingkat. Dia tidak suka anak-anak bermain cat di atas koran bekas, karena menurutnya seni harus diajarkan serius sejak bocah. Dia marah jika melihat orang tidak serius membuat karya seni. Dia muak membaca puisi-puisi penyair dadakan di Facebook. Dia berteman dengan Vincent van Gogh dan Picasso yang sudah lama meninggal. Dia lupa bahwa seni adalah hiburan.

Anak kecil di dalam diri saya selalu menghibur diri saya dengan ulah orat-oretnya. Orang dewasa dalam diri saya selalu sibuk bekerja untuk sehat. Orang besar dalam diri saya menemani saya menjelang tidur, mendongeng cerita sejuta satu malam.

Anak kecil di dalam diri saya selalu membangunkan saya pada dini hari dan mengajak saya ke studio 'ngeleukeup' di loteng belakang rumah. Saya ingat kenangan terjauh waktu bocah, acara setiap pagi di pekarangan rumah pada latar tanah yang berdebu. Anak kecil itu berjongkok buang air besar sambil mencorat-coret tanah berdebu dengan patahan ranting atau lidi atau pecahan genteng. Sampai ibu datang dengan pengki bambu dan sapu lidi, menyaup kotoran sekaligus menghapus lukisan di tanah karena harus menimbun kotoran dengan debu. Kenangan masa kecil yang indah.


https://www.facebook.com/pelukis.yusidjaya/media_set?set=a.657796524352136.1073741828.100003653841074&type=3

https://www.facebook.com/pelukis.yusidjaya/media_set?set=a.658266984305090.1073741829.100003653841074&type=3

Selasa, 14 April 2015

Saya Suka Keluarga



Hari ini putra kedua saya ulang tahun. Dia anak tengah dari tiga saudara. Selamat ulang tahun, nak. Bahagia selalu, Tuhan memberkati.

Anak kami tiga orang, laki-laki semua. Istri saya yang baik telah mewujudkan impian saya untuk punya anak. Karena saya tidak punya rahim maka saya sangat berterima kasih untuk ini. Membayangkan betapa relanya dia mengandung dan melahirkan tiga kali, saya merasa berhutang budi. Mengingat bahwa persalinan adalah pengalaman perjuangan hidup dan mati, maka saya merasa berhutang tiga nyawa.

Saya mengenal istri saya waktu saya masih sekolah di STM. Pada suatu pagi sepulang begadang saya diajak ke rumah teman saya yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. Kami begadang di sekolah mengerjakan pekerjaan tukang reklame membuat papan nama sekolah. Dalam keadaan teler karena sangat mengantuk saya melihat gadis adik teman saya ini. Saya masih ingat bagaimana pandangan pertamanya menatap saya. Dan ketika diperkenalkan, di telinga saya terngiang suara, "Inilah calon isterimu." Sekarang saya percaya itu suara Tuhan.

Kami berpacaran enam tahun lebih. Waktu melamarnya saya bilang (disaksikan jendela tua berteralis besi seperti penjara yang tak berubah sampai sekarang), "Marilah kita menikah, kamu urus surat-surat untuk menikah di Catatan Sipil. Saya bisa menyenangkan hidupmu, tetapi saya tidak bisa berjanji untuk menjadi kaya raya." Rasanya seperti itu yang saya katakan. Dan dia hanya mengangguk saja.

Sejak pacaran kami telah bersama-sama lebih dari empat puluh tahun. Kami menikah tiga kali: di Catatan Sipil, sebulan kemudian di rumahnya (rumah tua kesayangan kami yang kami tinggali sampai sekarang), dan di Gereja setelah anak-anak cukup besar, ikut pemutihan bagi pasutri yang belum dapat Sakramen Perkawinan.

Kami telah melewati banyak suka duka bersama. Saya belajar cinta darinya. Anak-anak kami lahir dengan direncanakan dan dibuat dengan indah. Istri saya mewujudkan impian saya menjadi ayah yang baik (meskipun saya merasa banyak bersalah). Istri saya sangat hebat karena ada tahun-tahun di mana dia mengurus empat orang anak dan yang paling tua dan paling menjengkelkan adalah saya.

Saya percaya kepada perkawinan dan sifat cinta yang memiliki. Saya orang yang lemah hati. Saya pernah baca pada sebuah poster di dinding sekolah Katolik ucapan seorang suci yang kira-kira begini, "Kepada orang yang lemah hati ceritakanlah tentang kebesaran kasih Tuhan." Istri saya adalah anugerah.

Saya pernah merasa hidup yang sangat gila, dan mengadukan derita tak tertanggungkan kepada teman baik saya. Jawabnya sedih, "Kamu masih lebih beruntung dari saya karena kamu masih memiliki keluarga."

Saya tidak mengerti tentang cinta sejati dan belahan jiwa, tetapi saya percaya bahwa saya adalah belahan jiwa istri saya. Kami akan terus bersama menjadi tua karena yang terbaik belum terjadi.



Senin, 13 April 2015

Otak Koruptor & Saya




Saya pernah membuat sajak waktu saya SMP dan dimuat di koran Yudha Minggu berjudul "Kepada Koruptor dan Pengchianat" (masih ejaan lama). Sajak yang marah.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=836541689708023&set=a.412718745423655.87847314.100000565985102&type=3&theater

Kemarin saya membaca berita utama Kompas, alinea pembuka,
"JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemberantasan Korupsi menahan mantan Menteri Agama Suryadharma Ali, Jumat (10/4). Suryadharma ditahan setelah pada 22 Mei 2014 ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2012-2013 dan 2010-2011."

Saya tidak habis pikir mengapa seorang menteri agama mau korupsi? Menurut hemat saya orang yang mengerti agama tidak akan korupsi.

Waktu saya bocah, nenek suka mengomel, "Dasar otak udang!". Itu artinya 'bodoh'. Saya telah melakukan sesuatu yang bodoh menurut nenek. Saya tidak peduli dikatakan berotak udang. Suatu kali saya melihat sendiri bahwa kepala udang berisi kotoran atau tahi. Sejak itu saya protes jika diomeli begitu. Saya tidak merasa punya otak Einstein tetapi saya tahu bahwa saya tidak bodoh untuk percaya bahwa otak saya sama dengan milik udang.

Otak Albert Einstein diawetkan untuk penyelidikan. Apakah otak orang jenius berbeda?
http://id.wikipedia.org/wiki/Otak_Albert_Einstein

Saya orang yang sangat berperasaan, saya sering berpikir bahwa mungkin ada kelainan di otak saya. Waktu saya bocah, nenek saya juga sering ngomel mengatakan otak saya 'mencong'. Waktu remaja saya sudah merasa jadi orang aneh. Saya suka melamun berlama-lama, saya suka melantur jika bicara sampai bisa menyebalkan orang. Sekarang saya suka sekali melukis abstrak, mungkin karena kesalahan saya melihat dunia. Saya tersenyum sendiri.

Saya selalu melihat semua orang baik. Seorang teman seniman pernah mengingatkan saya agar jangan terlalu naif. Waktu saya merasa sangat kecewa dengan diri sendiri, merasa terhina atau dilecehkan, bahkan merasa ditelanjangi, saya pikir otak saya memang berhenti berkembang selagi bocah.
(Pertanyaan saya: sudahkah Anda mengalami ditelanjangi?)

Saya percaya teori evolusi dan makhluk hidup yang disebut manusia ini mengembangkan otaknya. Saya rasa otak orang jahat lebih besar dari orang baik. Dan koruptor begitu rupa menjejali uang di otaknya sampai batok kepalanya mau pecah.

Saya ingat pada sebuah film, penjahat yang kaya raya bilang pada temannya, kira-kira begini, "Uang lebih nikmat dari seks." Saya pikir otak saya memang mencong karena tidak mengerti.

Menurut saya, otak koruptor mestinya berbeda karena mereka adalah orang yang sangat pintar, hebat dan terkenal, yang nyaris tak bisa kena jerat hukum. Saya usul agar otak koruptor top yang mati hendaknya bisa diawetkan dan diselidiki seperti otak Einstein. Setidaknya taruhlah di museum agar orang bisa melihat dan mengingat bahwa korupsi bukan kejahatan biasa, sangatlah keji.

Saya suka otak saya, saya merasa mungkin memang mencong tapi saya percaya Tuhan sengaja memasang begitu rupa.

https://www.facebook.com/notes/korupsi-emang-gue-pikirin/pemberantasan-korupsi-kejahatan-luar-biasa-kok-dianggap-biasa/1568375826746567

Minggu, 12 April 2015

Film "The Imitation Game"




Saya menonton film "The Imitation Game". Film bagus ini sangat mengganggu saya.
http://www.imdb.com/title/tt2084970/
http://id.wikipedia.org/wiki/The_Imitation_Game


Alan Turing: Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes... hollow.
http://www.imdb.com/title/tt2084970/quotes?ref_=tt_ql_3


Saya copas dari KOMPAS.COM:


Kegeniusan di Dunia Rata-rata
 
Dengan akting yang luar biasa dan kisah intelijen yang tidak biasa, The Imitation Game yang terinspirasi dari kisah nyata ini menjadi film yang memikat. Kita dihadapkan pada nasib kegeniusan manusia yang tidak memperoleh tempat selayaknya di dunia yang tingkatannya rata-rata.

Alan Turing (Benedict Cumberbatch), pemuda genius, ahli matematika yang sepanjang hidupnya dilecehkan oleh sekitarnya, direkrut oleh intelijen Inggris pada Perang Dunia II. Ia bersama sejumlah ahli lain ditugaskan untuk memecahkan pesan-pesan sandi Nazi Jerman yang menggunakan mesin sandi Enigma. Pesan-pesan pasukan Jerman itu memang tercegat oleh intelijen Sekutu, tetapi kodenya tidak dapat dipecahkan. Akibatnya, kekuatan perang Sekutu selalu luluh lantak oleh gempuran pasukan Jerman.

Turing yang berpembawaan dingin, hanyut dalam pikirannya sendiri, selalu canggung dalam berkomunikasi dengan orang lain. Ia bisa dengan mudah melihat relasi dalam pola-pola rumit yang tak tertangkap mata biasa. Sebaliknya, ia tak bisa menangkap makna komunikasi sederhana dalam lingkungannya. Turing, misalnya, bingung menjawab ketika diajak makan siang oleh rekan-rekannya.

Kilas balik yang munculnya berselang-seling dalam film ini membantu kita untuk mengenal dunia Turing dalam tiga periode penting, yaitu masa ”kini” ketika Turing mengalami proses interogasi oleh detektif Inggris; masa ketika ia remaja dan pertama kali dikenalkan pada dunia sandi oleh satu-satunya sahabat, Christopher; dan masa yang menjadi fokus film ini ketika ia bersama para ilmuwan lain dikumpulkan di Bletchley Park untuk memecahkan sandi Enigma.

Satu hal yang diyakini Turing, mesin harus dipecahkan oleh mesin. Namun, untuk meyakinkan atasannya, Komandan Denniston (Charles Dance), bukan hal mudah. Di sini kita menyaksikan ”penderitaan” Turing yang pemikirannya jauh ke depan namun tak ada yang bisa mengerti, dan malah harus berhadapan dengan aturan militer yang kaku dan penuh disiplin. Untunglah hadir Joan Clarke (Keira Knightley), perempuan genius yang bisa mengerti ”bahasa” Turing. Turing terpikat bukan karena kecantikan Joan, melainkan karena keterpesonaannya pada alam pikir Joan yang setara dengan dirinya, dan Joan memiliki apa yang tidak dimilikinya, keluwesan sosial. Bersama Joan, Turing merasa aman dalam dunia yang tidak dimengertinya.

Terlecut oleh ”ketidaksengajaan” Turing kemudian menemukan ”kunci” yang membuka jalan terwujudnya mesin Christopher—diambil dari nama sahabat yang dicintainya—yang merupakan cikal bakal komputer yang kita nikmati saat ini. Ketegangan berikutnya adalah bagaimana membuat pihak Jerman tidak tahu bahwa Sekutu telah berhasil membongkar Enigma.

Dramatisasi selanjutnya adalah interpretasi terhadap kehidupan nyata Turing yang kesepian dan tidak bahagia karena harus menyembunyikan identitasnya sebagai gay. Pada masa itu, orientasi gay masih dianggap sebagai tindakan ilegal. Turing memilih untuk menjalani terapi hormon daripada dipenjara, pilihan yang perlahan ”membunuh”-nya. Sampai saat ini tetap ada spekulasi bahwa ia dibunuh oleh intelijen Inggris sendiri karena kekhawatiran kegeniusannya akan dimanfaatkan pihak lawan di masa Perang Dingin. Turing memang hidup di zaman yang salah. Ia bunuh diri di usia yang masih sangat muda, 41 tahun.

Film ini istimewa karena Cumberbatch bermain cemerlang. Sulit membayangkan aktor lain yang bisa memerankan kegeniusan dan keanehan Turing dengan demikian intens. Oscar sangat pantas untuk dirinya. (MYR)

The Imitation Game

* Sutradara: Morten Tyldum
* Produser: Nora Grossman
* Skenario: Graham Moore
* Pemeran: Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Rory Kinnear, Charles Dance
* Produksi: Black Bear Pictures. FilmNation Entertainment

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Februari 2015, di halaman 29 dengan judul "Kegeniusan di Dunia Rata-rata".


   

Minggu, 05 April 2015

Saya Suka Liang Liu dan Bayi



”Aku merasa bentuk pohon itu puitis sekali. Merunduk namun tak jatuh. Di Barat, pohon itu dinamakan Weeping Willow. Di sini, banyak yang menamainya Janda Merana. Kurasa-rasa pohon itu memang tampak sedih. Mungkin karena itu aku menyukainya. Karena aku menyukai kesedihan.”

Satu alinea ini saya ambil dari cerpen Kompas hari ini, Minggu, 5 April 2015. Judulnya "Liang Liu" karya Dewi Ria Utari. Saya membacanya sebagai cerita misteri.

Judulnya membawa saya kembali ke masa kecil. Saya mengenal pohon Liang Liu ketika saya di pangkuan nenek di dalam becak yang berdesakan dengan ibu, kakak dan adik saya. Di jalan banyak pohon yang sangat menarik perhatian saya, dan saya menanyakan itu pohon apa. Nenek menjawab, "Liang Liu". Entah mengapa saya suka pohon ini. Setelah SD saya tahu jalan itu bernama Kepu Selatan, jalur saya berjalan kaki ke sekolah di Bungur Besar. Pulang sekolah jika tidak menyusur jalan kereta api maka saya menembus lewat jalan rumah sepupu saya Ernia Setiawan, jl. Kepu Utara. Rumah Ernia luas dan banyak pohonan. Mungkin ada pohon Liang Liu juga, karena waktu itu banyak saya temukan di mana-mana. Sekarang sudah tidak ada karena pelebaran jalan di seluruh ibukota, Halaman depan rumah habis diambil jalan raya. Jika ada jalur hijau kebanyakan pohon Angsana. Tiba-tiba saya rindu pada Liang Liu dan ingin memandangnya lama-lama. Saya pernah membawa Liang Liu ke dalam sajak saya waktu saya remaja. Bunyi lariknya begini, "Di luar, pohon liangliu diam, daunnya tiba-tiba kaku!"




Sekarang tentang bayi. Di rubrik Nama & Peristiwa ada foto pesohor Happy Salma bersama bayinya. Dia baru melahirkan secara normal, padahal kini zaman operasi caesar. Saya salin satu alinea,

"Sejak awal kehamilannya, aktris serba bisa ini sudah memantapkan hati untuk melahirkan secara normal. Ia menolak berbagai tawaran melahirkan gratis di rumah sakit besar asalkan mau caesar dan bersedia mengadakan jumpa pers. Kelahiran normal itu, kata Happy, membuatnya bisa merasakan betapa dulu ibundanya dengan susah payah melahirkannya. ”Itu sakit sekali, tetapi itulah saat paling bahagia, di mana aku jadi tahu gimana dulu ibuku melahirkan, apalagi dengan fasilitas kedokteran yang tidak seperti sekarang,” kata Happy."

Saya suka bayi karena sejak kecil saya berteman dengan bayi. Saya membantu mengasuh adik-adik saya, dan ketika SMP tinggal di Bogor saya mengasuh sepupu, anak paman. Saya punya putra pertama di usia 24, senang bercampur bingung menjadi ayah pada usia muda. Putra saya tiga, berteman dengan mereka sejak bayi karena saya bekerja di rumah. Kenangan saya kepada cucu cantik pertama adalah menggendongnya dan meninabobokannya dengan lagu rohani yang liriknya saya nyanyikan berulang-ulang, "Aku memuji kebesaranMu/Sungguh besar kuasaMu." dan dia selalu terlelap dalam pelukan saya.

Ketiga putra saya lahir di RS Carolus tak jauh dari rumah kami. Semua ditangani bidan dan lahir secara normal. Waktu istri saya melahirkan putra sulung saya pingsan di ruang tunggu dan dibawa ke UGD. Saya trauma waktu kelahiran anak kedua tetapi kerabat dan teman menghibur saya dengan bermain kartu gaple di ruang tunggu. Untung tidak menunggu terlalu lama hingga saya tidak pingsan lagi. Waktu kelahiran anak ketiga semua baik-baik saja.

Saya suka bayi. Saya menulis sajak ini setelah menengok istri teman baik yang melahirkan, di kebidanan jauh dari rumah saya, di kampung pinggir kota. saya pun kemudian menjadi bapak permandian sang bayi yang sekarang sudah jadi mahasiswa. Sukses selalu, nak.


BAYI

lamat kudengar tangis bayi
dari sulung yang kini remaja
atau putramu yang baru lahir, kawan
mungkin dari rumah sakit dekat rumah
atau di negeri jauh
yang penuh perang dan kelaparan

kubayangkan bayi tergolek merah
dengan kedua tangan mencakar-cakar
di rumah ini, kamarmu, atau boks rumah sakit
di dada wanita hitam yang sudah kaku
di emper toko
di dalam kantong plastik di semak-semak

bayi adalah keajaiban, katamu



Sabtu, 04 April 2015

Saya Percaya Tuhan


Seketika altar kosong  begitu saja. Tak ada penutup pada misa. Umat bubar. Jumat Agung, Tuhan Yesus sudah wafat.
Tiga hari lagi Dia bangkit dari kematian. Umat Kristiani merayakan Paskah.

Di buku "Pidato-Pidato yang Mengubah Dunia" (penerbit Esensi, divisi Penerbit Erlangga, 2008) disalin "Khotbah di Bukit" dari Alkitab (Matius 5-7). Saya salinkan alinea pertama pengantar pada bagian "Yesus dari Nazareth":

"Bagi banyak orang, kata-kata Yesus yang terangkum dalam "Khotbah di Bukit" merupakan intisari kekristenan -- pokok-pokok ajaran Yesus. Yesus dari Nazareth adalah seorang guru Yahudi abad pertama yang disalibkan oleh orang Romawi. Orang-orang Kristen percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan merupakan Anak Allah. Melalui Yesuslah Allah menampakkan diri kepada dunia, dan melalui kematian Yesus dunia didamaikan kembali dengan Allah. Kekristenan adalah salah satu agama besar di dunia dan didasarkan atas ajaran Yesus dan murid-muridnya yang ditulis dalam Injil Perjanjian Baru."


Saya paling enggan bicara tentang Tuhan dan agama. Bagi saya Tuhan sangat pribadi, pengalaman saya bersama Tuhan di luar nalar. Dan membicarakan agama hanya membuat saya merasa menjadi orang yang paling beriman. Semua orang fanatik dengan agamanya.

Pernah seorang teman mengatakan dengan serius bahwa dia lebih Katolik dari saya. Saya tertawa dan bertanya, bagaimana dia mengukurnya? Apa karena saya malas ke gereja dan tidak memakai kalung rosario? Padahal saya rajin berdoa, sangat suka berdoa, dan waktu melukis saya berdoa panjang.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang percaya mistik dan tahayul, akrab dengan hio, kemenyan dan sesajen. Dulu ada banyak sekali larangan yang tidak saya mengerti alasannya tetapi saya percaya. Waktu bocah saya harus 'numpang-numpang' kalau mau buang air kecil di alam bebas. Jika lewat pohon besar saya diajarkan untuk minta permisi dengan berbisik, "Numpang-numpang... numpang lewat, Nek." Selesai berucap saya lari sekencang-kencangnya. Pohon Asam besar dan pohon Waru besar dekat rumah seperti nenek raksasa hitam di waktu malam.

Saya pernah mengalami 'kiamat', kejadian yang sangat menghancurkan hati saya dan tak pernah sedikit pun saya membayangkan bisa terjadi dalam hidup saya. Saya terus-terusan menangis dan meratap, jika bisa saya pasti telah memeluki Dinding Ratapan di Yerusalem. Saya membaca Kitab Ratapan di Perjanjian Lama (saya sangat suka mengulang membacanya sebagai puisi). Saya kehilangan Tuhan sampai suatu saat saya roboh di kamar mandi dalam ratapan tangis terakhir. Tuhan menggantikan hati saya yang hancur dengan hatiNya. Saya hidup baru.

Belum lama ini teman saya yang pelukis realis datang. Meskipun beda aliran tetapi kami merasa punya persamaan: pelukis tak terkenal dan miskin. Kami ngobrol penuh tawa getir karena menertawakan coreng-moreng hidup kami. Katanya, sebagai pelukis kami hidup terlalu berperasaan. Banyak temannya pelukis yang menjadi dukun atau penyembuh orang sakit. Ada yang jadi paranormal kaya dan berhenti melukis. "Kita juga bisa jadi paranormal tapi kita memilih tetap jadi pelukis," lanjutnya sambil tertawa lagi. Saya meng-iya-kan.

Saya suka lagu "Imagine" John Lennon. Pada waktu kehilangan Tuhan saya ikut membayangkan apa yang dikatakan lirik lagu ini. Ya, jika  di atas langit tidak ada surga, tidak ada neraka, di dunia tetap harus ada cinta. Orang harus bisa menyayangi sesamanya karena sama-sama terdiri dari tulang-daging-darah, karena sama-sama bisa merasa sakit dan menderita, karena semua orang ingin hidup aman dan bahagia sampai ajal tiba.

Saya membaca buku "Sejarah Tuhan" karya Karen Armstrong dengan semangat sastra. Buku ini saya pujikan, banyak menambah pemahaman saya tentang manusia & agama. Buku ini membuat saya makin enggan untuk bicara apalagi diskusi agama.



Saya mencatat alinea pertama kata pengantar dari Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi untuk buku "God Without Religion" oleh Sankara Saranam.

"Pertanyaan "Apakah Tuhan itu?" telah memusingkan umat manusia selama berabad-abad dan akan terus menantang pemahaman logis selama kita hidup dengan konsep bahwa di atas sana ada suatu surga tempat Tuhan duduk menghakimi umat manusia dan menghukum orang yang telah bertindak tidak benar. Pemikir-pemikir terkemuka sepanjang sejarah telah berusaha menemukan jawaban logis terhadap pertanyaan yang sulit dan tidak menyenangkan ini, dengan hasil hanya sedikit. Pada sisi lain, Yang Mulia Gautama, sang Buddha, melakukan tapasya (kata Sansekerta untuk asketisme) di bawah sebatang pohon bodhi dan, seperti beberapa orang lainnya, menemukan bahwa Tuhan ada di dalam hati setiap insan, dalam bentuk cinta kasih, bela rasa, pengertian, dan sifat-sifat positif lainnya yang mampu dimiliki manusia tetapi sering kali ditekan olehnya. Tampaknya, daripada kita mencoba menegaskan logika yang ketat atau menempatkan suatu citra yang solid pada konsep kita tentang Tuhan, kita harus mengikuti teladan mereka dan mengerahkan energi yang lebih besar untuk secara intuitif memahami makna Tuhan."

Saya percaya Tuhan.
Sungguh, saya tidak akan meneruskan bicara Tuhan. Mari bicara tentang seni saja.

Selamat Paskah.